Ketika Ruh Tulisanmu Dicuri Redaksi: Catatan Hati Seorang Penulis yang Tak Diizinkan Berbicara
Selasa, 08 September 2026
0
komentar
Sudah hampir enam bulan saya menunggu. Saya pikir, yang menunggu itu pasti akan berbuah kebaikan. Siapa sangka, yang kembali bukan lagi tulisan saya. Itu tulisan yang berwajah sama, tapi jiwanya sudah pindah ke tempat lain.
Saya menulis itu dengan hati. Dengan riset yang tak sedikit, dengan jam-jam yang terlewat hanya untuk memastikan setiap kutipan sahih, setiap argumen berdiri di atas bukti, setiap kalimat lahir dari keyakinan bahwa ada kebenaran yang patut disampaikan. Bukan sekadar kata-kata yang dirangkai demi terbitnya sebuah artikel. Lebih dari itu: saya ingin menyuarakan bahwa di balik karikatur yang tampak sekadar gambar, ada penghinaan yang lama berakar. Bahwa reaksi umat Islam bukanlah amarah yang tak berdasar, melainkan tangisan cinta dan pembelaan terhadap sosok yang paling dicintai. Bahwa deskripsi lembut dan mulia dalam kitab hadis berdiri tegak, menampakkan betapa jauhnya gambar-gambar kejam itu dari kenyataan.
Itulah ruh tulisan saya. Itulah yang ingin saya sampaikan kepada pembaca.
Lalu datanglah pengumuman: artikel diterima. Akan diterbitkan. Saya senang. Saya kira, setelah melalui proses peninjauan yang panjang, suara itu akhirnya akan didengar.
Namun ketika saya membuka halaman jurnalnya, dada saya terasa sesak.
Kata-katanya berubah. Bahasanya berubah. Yang lebih menyakitkan: kesimpulannya berubah.
Tegasnya pertentangan antara karikatur yang penuh prasangka dengan lembutnya sabda Nabi — dihapus.
Jelasnya akar sejarah kebencian yang membentuk citra buruk itu — dihapus.
Dalamnya alasan mengapa umat Islam bereaksi — dihapus.
Yang tersisa hanyalah pembicaraan yang aman, netral, seolah-olah kedua hal itu hanya berbeda cara penyampaian. Seolah-olah tidak ada yang keliru. Seolah-olah tidak ada yang terhina. Seolah-olah tulisan saya hanya membahas teori tanda semata, tanpa ada rasa, tanpa ada kebenaran yang harus ditegakkan.
Mereka menyunting tulisan saya — bukan sekadar memperbaiki tata bahasa, bukan sekadar merapikan format. Mereka mengganti maknanya. Mengubah kesimpulannya. Menghilangkan inti sari yang saya perjuangkan selama berbulan-bulan. Dan yang paling perih: melakukannya tanpa sepengetahuan saya, tanpa izin saya, tanpa memberi kesempatan saya untuk sekadar membaca dan menyetujui perubahan itu sebelum terbit.
Saya bukan lagi penulis dari tulisan itu. Saya hanya nama yang dipasang di atas karya yang ruhnya sudah dicabut.
Inilah yang menyakitkan hati seorang penulis: ketika karyanya diterbitkan, namun isinya bukan lagi apa yang ingin ia sampaikan. Ketika namanya tercantum di sana, namun ia tidak mengenali pemikiran yang tertulis di bawah namanya sendiri. Seperti anak yang dilahirkan, lalu diubah wajahnya oleh orang lain sehingga ia tak lagi dikenal oleh ibunya sendiri.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Di mana penghormatan terhadap hak penulis? Di mana tanggung jawab untuk menjaga keaslian gagasan? Bukankah tugas jurnal adalah menyebarkan kebenaran yang diteliti penulis, bukan mengubahnya agar selaras dengan selera atau pandangan pihak lain?
Saya menulis ini bukan untuk menolak kritik atau perbaikan. Sebaliknya, saya sangat menghargai proses peninjauan. Namun ada batas yang tak boleh dilanggar: penulis harus tetap menjadi pemilik gagasannya. Jika setiap argumen yang berani berbeda, setiap kesimpulan yang tegas, setiap suara yang lantang harus diredam hingga menjadi lemah dan tak bersuara — lalu apa gunanya menulis? Apa gunanya meneliti? Apa gunanya menerbitkan tulisan yang tak lagi mewakili kebenaran yang ditemukan penulisnya?
Hari ini saya belajar satu hal yang pahit: bukan tulisan yang diterbitkan itu yang menjadi kebanggaan penulis, melainkan tulisan yang tetap mempertahankan kebenaran meski harus menunggu lebih lama lagi. Lebih baik tulisan saya belum terbit, daripada terbit namun kehilangan ruh yang seharusnya dibawanya.
Tulisan itu kini telah terbit. Namaku ada di sana. Tapi suaraku tak ada. Yang terbit adalah bayangan dari tulisan yang pernah kutulis. Dan itu terasa lebih perih daripada jika tulisan itu sejak awal ditolak.
Karena ketika ditolak, tulisan itu tetaplah milikku. Tetap utuh. Tetap benar. Tetap bernyawa.
Sedangkan sekarang... yang terbit hanyalah mayat dari tulisan yang pernah hidup.
catatan: Tulisan ini adalah refleksi pribadi penulis dan tidak mewakili institusi atau pihak lain. Tulisan ini dibuat sebagai catatan hati, bukan untuk menebar kebencian, melainkan agar hal seperti ini tidak lagi menimpa penulis lain. Semoga ke depannya, redaksi jurnal lebih menghormati hak penulis: mengizinkan gagasan mereka hadir apa adanya, bukan setelah ruhnya dicabut.
Baca Selengkapnya ....


